Minggu, 29 November 2009

Tugas 2

DINAR EKA SARI

C9308003

3.A

Tugas 2

Perihal : Melakukan Wawancara

Sasaran : 1. Bp. Siswanto (Tukang Becak)

Bp Siswanto adalah seorang tukang becak yang biasa mangkal didepan pasar Bekonang, Sukoharjo. Beliau bertempat tinggal di desa Jetis Rt 02/04, Mojolaban, Sukoharjo. Beliau mempunyai seorang istri yang bernama Ibu Ngatiyem, dan mempunyai 3 orang anak masing-masing bernama Ndari, Bagas, dan yang paling kecil bernama Eni. Dalam sebuah rumah tua berbentuk joglo yang belum pernah direnovasi itu, selain pak Siswanto dan anak istrinya, disitu juga ada ibu dari pak Siswanto yang bernama Ibu Sri Mulyati. Beliau sudah sangat lanjut usia sehingga hanya dapat beraktivitas didalam rumah saja. Rumah tersebut sebenarnya rumah milik dari Ibu Sri Mulyati, lalu diwariskan kepada pak Siswanto karena beliau adalah anak tunggal. Ayahanda pak Siswanto sendiri sudah meninggal dunia sejak pak Siswanto masih kecil. Sehinnga bu Sri berusaha hidup untuk membiayai keperluannya sendiri dan anaknya, yaitu pak Siswanto. Karena hanya bekerja sebagai buruh angkut di pasar Bekonang, beliau tidak bisa menyekolahkan pak Siswanto hingga tingkat yang lebih tinggi, hanya sampai SD saja. Meskipun begitu pria kelahiran 47 tahun yang lalu itu tidak pernah mengeluh, beliau tetap berusaha mencari kerja untuk dapat membiayai kebutuhan keluarganya dan untuk keperluan sekolah anak-anaknya meskipun hanya sebagai tukang becak. Istrinya sendiri membantu menopang kebutuhan keluarganya dengan bekerja sebagai buruh cuci disekitar tempat tinggalya. Ibu Ngatiyem tidak dapat bekerja terlalu jauh dari rumah karena masih mengurusi rumah dan ibu mertuanya yang sudah sangat tua. Menurut pak Siswanto, uang hasil kerjanya sebagai tukang becak kurang dari cukup untuk memenuhi keperluan keluarganya meskipun sudah dibantu dari istrinya. Walaupun begitu, beliau tidak pernah berputus asa dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan tidak lupa pula berdoa. Beliau yakin suatu saat nanti kehidupannya bisa berubah jika ada kemauan. Pak Siswanto selalu menerapkan kepada anak-anaknya disiplin hidup dan mengajarkan semua tentang keagamaan, karena beliau juga termasuk sosok yang religius. Anak-anak pak Siswanto sangat membantu kehidupan kedua orang tunya, itu terlihat dari kepintaran mereka dan selalu mendapat beasisiswa disekolah masing-masing. Pak Siswanto tidak henti-hentinya mengucap syukur. Dalam hatinya, beliau ingin sekali melihat anak-anaknya berhasil. Minimal tingkat pendidikan anak-anaknya diatas lebih tinggi dari kedua orangtuanya.



Tugas 2

Perihal : Melakukan Wawancara

Sasaran : 2. Ibu Niti Dimejo (Pedagang di pasar Tradisional)

Bu Titi , demikian sapaan akrab sehari-hari buat wanita kelahiran 47 tahun silam tersebut adalah seorang pedagang di pasar tradisional didaerah Bekonang. Beliau memiliki kios kecil yang terletak didalam pasar. Beliau sehari-hari berjualan bumbu-bumbu dapur seperti, bawang merah, bawang putih, rempah-rempah, tomat, kecap, dll.bahkan bu Titi juga menjual keperluan rumah tangga seperti sabun mandi, sampo, pasta gigi dll. Bu Titi bertempat tinggal tidak jauh dari kiosnya yaitu di desa Grogol Rt01/08, Mojolaban, Sukoharjo. Rumah bu Titi terbilang cukup bagus. Karena beliau termasuk dalam masyarakat golongan tingkat menengah atas. Suami bu Titi bernama Bp. Surya Hermawan, mata pencaharian beliau adalah sebagai guru SMAN1 Mojolaban. Keluarga bu Titi hanya mempunyai satu orang anak bernama, Radytia. Sekarang sedang melanjutkan kuliah S1 bahasa inggris di universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Keluarga bu Titi adalah termasuk keluarga yang cukup terpandang di desa nya. Karena suaminya yaitu pak Surya adalah ketua Rt setempat. Maka dari itu bu Titi dan anggota keluarganya yang lain sangat ramah kepada masyarakat sekitar dan sering membantu jika ada warga yang sedang mengalami kesusahan. Walaupun pekerjaan bu Titi hanyalah sebagai seorang pedagang di pasar tradisional tetapi beliau tidak pernah merasa rendah diri ataupun malu. Karena pada dasarnya semua pekerjaan itu bila dilakukan dengan senang hati dan ikhlas akan memperoleh hasil yang terbaik. Dalam lubuk hati nya yang paling dalam sebenarnya bu Titi menginginkan perekonomian dalam keluarganya lebih baik lagi karena dewasa ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok cukup mahal. Disamping itu, biaya pendidikan anak satu-satunya juga semakin meningkat. Tetapi bu Titi tidak henti-hentinya selalu berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan dan tak lupa pula selalu berusaha, ditambah lagi atas dukungan suaminya, bu Titi tidak pernah merasa kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar